Tuesday, June 22, 2004

Sejarah Komik Indonesia

Kalaupun belum ada data akurat dan akan menjadikan diskusi yang berkepanjangan, namun Sejarah Komik di Indonesia (kita yakin) telah dimulai sejak jaman prasejarah, karena Peneliti Prancis pernah menemukan rangkaian gambar pada banyak gua didaerah Irian Jaya, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Fakta lain, beberapa Candi kita pun menjadi saksi bisu guratan rangkaian ceritra para pendahulu kita seperti Mahabrata di Candi Borobudur, Ramayanan di Candi Prambanan. Marcell Bonnef (1998:18) menyatakan bahwa Relief/gambar yang terdapat di Candi Borobudur adalah KOMIK TERBESAR DI DUNIA.


Fakta lain, Wayang Beber yang awalnya hanya dipertunjukan untuk masyarakat Pantai Selatan, maupun pertunjukan Iler-Iler yang kerap dipertunjukan di Bali, itupun menyerupai Komik. Ceritranya dilukiskan pada gulungan kain, yang kemudian dipertunjukan kepada public, sambil disertai rangkaian cerita yang runut dan bermakna.


Era tahun 1930-1980-an adalah masa kejayaan Komik Indonesia . Pada periode itu lahirlah para Komikus seperti Kho Wang Gie/Sopoiku, Abdul Salam, Nasroen AS, RA. Kosasih, Ganes TH, Djair, Hans Jalarada, Wid NS, Hasmi dan lainnya lagi.


Khususnya periode thn.1930-1950-an, kalaupun banyak tudingan miring pemerintah saat itu yang menyatakan sebagian dari Komikus & karya mereka dianggap subversif, toh mereka tetap melaju. Intelektualitas, Ekpresi, Hak Asasi dan Kreatifitas Komikus tidak dapat dipasung dan berhenti (kalaupun harus) ditiang gantungan. Namun toh, Bung Karno pun ‘sempet-kesengsem dengan Komik untuk dijadikan alat politiknya dalam menyapu NEKOLIM, dan lahirlah PASILUUM (Pantjasila Untuk Umat Manusia) yang disimbolkan dengan Roket luar angkasa


Secara kasat mata ada 4 (empat) periode Per-Komikan kita:


a. Tahun 1930 :
Periode ini melahirkan banyak tema perjuangan. Misalnya; Abdul Salam dgn Pangeran Diponegoro, Pendudukan Jogja,dsb. Nasroen AS dengan Mentjari Poetri Hidjau, Kho Wang Gie dgn Put On ,dsb. Upaya mereka cukup dapat membendung komik asing seperti Tarzan, Superman, Flash-Gordon, dsb.


b. Tahun 1940-1950 :
Diakhir tahun 1940-an ini karya komik mulai mengarah kepada tokoh-tokoh super-hero, mis: RA.Kosasih dgn Sri asih , John Lo dengan Kapten Kilat, dsb. Hal ini cukup membuat ‘berang pemerintah, khususnya kalangan pendidik. Maka tema Komik mulai ‘melunak' yaitu Pewayangan. Mis; NA Giok Lang, AR Rosadhi, Suherlan, T.Hardjo, Djas, Zam Nuldyn, AS.Ardina, Taguan Hardjo,dsb.


c. Tahun 1960-1970 :
Selain Pewayangan, Komikus periode ini mulai nge-pop, tema-tema Romantika Remaja, Persilatan dan Superhero menempati pasar masing-masing. Disana ada Ganes TH (Si Buta DGH, Djampang,dsb), Djair (Jaka Sembung, Kinong,dsb), Hans Jaladara (Pandji Tengkorak,dsb), Wid NS (Godam,dsb), Hasmi (Gundala Putra Petir,dsb), Indri Sudono, dan banyak lainnya lagi.


d. Tahun 1980-2000 :
Periode ini merupakan masa Genre Baru/indie dunia Komik Indonesia, kalaupun banyak komik-komik lama yang dirilis namun pasarnya mulai ‘redup', selain karena kesulitan bahan baku dan distribusi hal lainnya karena komik ‘asing' khususnya produk Jepang dan Amerika lebih dominan dan mampu merebut pasar tanah air. Di masa inilah tampil para Gerilyawan-Komikus , mereka bermain dibawah-tanah (Underground) mencoba menyiasati pasar kalaupun dengan bahan baku dan distribusi yang terbatas. Diantaranya adalah Dwi Koen yang melahirkan tokoh Sawung Kampret, Studio Bajing Loncat dgn Ophir, Katalis, Amoeba, dsb.


Kalaupun masih meninggalkan silang pendapat antara Komik dan Kartun, Karya lain yang tidak boleh dipandang sebelah mata pada saat itu adalah Panji Koming, Nona Cemplon, Doyok, Ali Oncom, Om Pasikom, Agen Rahasia 013 , dsb. Mereka Mencoba melawan komik-komik import seperti; Crayon Sinchan, Walt Disney (Paman Gober, Donald Duck,dsb), Tarzan, Tintin,Doraemon, Kapten Amerika, Pocahontas, Teletubies, HC.Andersen, Batman dan Robin, Superwoman, Meteor Garden, Asterix, Dragon Ball ,Pokemon,Kobo Chan, KungFu Boy, Conan, dsb.


Sejak 70 tahun lalu, dari ratusan dan mungkin ribuan media cetak yang ada, tidak semua ikhlas jika halamannya dihiasi karya Komikus. Namun ada beberapa media cetak yang turut berjasa, al; Harian Sin Po, Mingguan Ratoe Timoer, Mjl. Varia Nada, Film, Kompas, Pos Kota, Berita Kota, Mjl. Hai, Mjl.Bobo, Harian Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Pagi, Mjl.Bombi, Mjl. Kawanku, dsb.


Panji Koming/Dwi Koen


Demikian halnya dengan penerbit, kalaupun jumlahnya belum sebanyak Bintang dilangit, namun kita tetap bersyukur karena mereka pernah dan tetap peduli terhadap Komik Indonesia . Baik yang secara formil maupun yang dilakukan dengan ‘bergerilya; Diantaranya: Melodi, Harris & Casso, Balai Pustaka, Kompas Grup (Gramedia, Elex Media Computindo,dsb), Mizan, Chaur, Daging-tumbuh, dsb. Kejelian dan bentuk Gerilya Komikus (khususnya Indie/Underground) pun kini telah merambah Dunia Maya/Internet (Situs Web, Mailing List,dsb), dan hasilnya kini banyak Komunitas Komik Online yang ujungnya kemudian penyebaran informasi dan distribusi secara offline.


SASARAN


Jika saat ini di seluruh Indonesia ada lebih dari 25 klub/komunitas Komik (Mis; MKI-Masyarakat Komik Indonesia, Bajing Loncat, Komikaze, Baskom, dsb) namun bukan berarti jumlah penggemar Komik dapat dihitung dengan jari. Karena sesungguhnya basically setiap orang, pria-wanita, tua dan muda mempunyai kemampuan untuk membuat Komik/Komikus. Diawali dengan corat-coret/sket atau gambar atau lukisan, abstrak atau mengandung makna/arti. Karena bias saja mereka itu adalah anda sendiri, putra-putri anda, cucu, cicit, keponakan, ipar dan lainnya.


Jika saja Komunitas Komik (Pembuat Komik/Komikus, kolektor, pengarang cerita, editor, Penerbit, dsb) angkanya mencapai 1% saja dari jumlah penduduk Indonesia, secara kasat mata jumlahnya mencapai 2 juta orang, Amatir atau Professional.


Komik, merupakan implementasi dari sebuah sket/gambar yang mengandung arti yang luas, sebagaimana kita memahami setiap lembar foto dan lukisan yang mampu bercerita lebih dari sejuta makna/arti. Komik lahir dari hasil karya intelektual, imajinasi, ekspresi dan kreatifitas seseorang, yang terpengaruh dan mempengaruhi prilaku, lingkungan, pemahaman, tekhnologi dan pengetahuan.


Dalam meminimalisir dampak negatif Globalisasi khususnya terhadap usia Anak-Remaja, banyak upaya yang dapat kita lakukan bersama. Salah satunya melalui dan menggunakan Komunitas Komik.. Sekaligus (mari!) kita tingkatkan BUDAYA KOMIK INDONESIA yang ber-etika, berbudaya, santun dan bermoral. Mengingat dewasa ini banyak karya komik kita yang ‘latah berglobalisasi dengan membuat Komik XXX, XX dan X (Porno dan Semi Porno), baik melalui cetak maupun website. Sangat memprihatinkan jika perjalanan Komik Bangsa ini harus diselipkan karya-karya macam ini, apapun alasannya ini sangat tidak Indonesianisme, kecuali bagi orang yang tidak waras. Apalagi karya-karya mereka beredar tidak dikalangan terbatas (Umum/Publik).(Bahan: Site Komik underground Indonesia)

No comments: